Minggu, 21 Januari 2018

Segarnya Kebun Teh Ciwidey Bandung

Segarnya Kebun Teh Ciwidey Bandung

Selepas dari Curug Tilu, kami melanjutkan perjalanan ke Kebun Teh Ciwidey. Perkebunan yang terhampar di kanan-kiri jalan. Yang sebenarnya sudah kami lewati sebelum bertemu --kesasar mencari-- Curug Tilu.

Untuk wisata yang satu ini Mbak Yuli yang paling excited. Pengen banget main di kebun teh. Dan perkebunan teh di Ciwidey ini kenyihir kami dengan hijaunya pucuk daun yang belum dipetik. Indah dan menyejukkan mata. Dijamin deh kalau punya miopia dan dilatih senam pagi setiap hari di kesejukan Kebun Teh Ciwidey bisa sembuh dalam waktu sebulan-dua bulan.

Masya Allah segarnya! Bikin aku tambah jatuh cinta dengan warna hijau. Hijau pupus pucuk daun teh.

Sejauh mata memandang hamparan hijau daun teh begitu segar memanjakan mata.

"Eh, angle dari sini bagus tuh!"

Berlompatan kegirangan kami menyiangi pohon-pohon teh yang tinggi minimalnya separuh badan. Dan sebagian membuat tubuh kita tenggelam di kehijauan.

Properti andalanku di sini buku karena yaa, rasanya nggak enak kalau nggak ada buku di dalam tas. Di sana buku di tak absen berada di dalam tas.

Perkebunan yang kami datangi ini bukanlah milik pribadi atau perseorangan melainkan milik pemerintah.

"Pak boleh metik teh-nya nggak?" Salah seorang partner travellerku bertanya pada ibu penjual berry yang menjajakan di depan kami.

Segarnya Ciwidey membuat kami tertarik untuk ikut mencicipi buat buah beri; arbei dan stoberi. Then it is! Pertanyaan temanku yang pengen banget metikin kenangan. Eh maksudnya daun teh yang menghijau.

"Ya nggak papa, Dek asal nggak banyak-banyak," kata Pak pentol yang berada di pinggir jalan kebun.

Kami? Ketawa aja! Haha.

Asyiknya perkebun teh di Ciwidey ini kita nggak usah bayar untuk masuk ke lokasi. Langsung cus aja. Berhentinya pun boleh sesuka hati. Asal tetap di pinggir jalan. Kalo keukeuh mau parkir di tengah jalan, nggak papa sih, monggo, tapi siap-siap menghadapi keributan, hoho.

Sejauh mata memandang, hijau-hijau-hijau! Bikin mata adeum dan betah berlama-lama di sana. Tapi kabut datang menyerbu kami. Semakin menebal senti demi senti. Membuat pandagan kami jadi terbatas.

Maunya bisa memotret sampai ratusan foto lebih, tapi keadaan meminta kami untuk segera beranjak pulang.

Kabut Tebal Ciwidey

"Dek, ayo cepetan! Kabutnya makin tebel nih!" Itu suara Mbak Yuli dari atas jalan raya. Sudah siap menghidupkan mesin sepeda motor.

"Bentar, Mbak satu foto lagi yaa.."

"Kalo nggak cepetan, tak tinggal lho ya,"


Hayuk makanya buruan!

Padahal masih siang. Dzuhur. Tapi kabutnya sudah tebal sangat. Ya sudah hayuk pulang. Semoga kapan-kapan bisa main lagi.

Good bye, Ciwidey!

Sabtu, 06 Januari 2018

Mengharu Biru di Curug Tilu Ciwidey

Mengharu Biru di Curug Tilu Ciwidey
Motoran bareng Kakak Gugel Mep
Mengelilingi Bandung tanpa guide, mustahilkah? Bisa lho! Guide asisstant kami si Kakak Gugel Mep. Berempat; aku, Mbak Yul, Mbak Dil dan Dek Ril motoran ke daerah Ciwidey.


Tujuan utama kami, Curug Tilu yang sudah direkomendasikan oleh Yasmin. Sayangnya Teh Li dan Yasmin nggak bisa ikutan trip kami kali ini. Lain kali, kita bareng-bareng lagi, okay?

Berbekal basmalah, kuota melimpah dan baterai terisi penuh akhwat traveller cus menuju Ciwidey dari Soreang, Bandung.

Karena kemaren sore sudah pernah melewati jalannya kita gampang tinggal ikut-ikut alur sambil mengingat-ngingat. Aku yang dibonceng, siap siaga dengan si Kakak Gugel Mep.

Sempet nyasar masuk gang. Dan si Kakak Mep membalikkan lagi ke jalan yang benar.

"Barat mana barat? Utara, utara?"

Haha. Pas memasuki keramaian pasar. Kami dibuat linglung.

Untung daerah wisata Ciwidey aksesnya gampang. Tinggal lurus aja dari Soreang (seingetku). Cuma memang jalannya lurus menanjak nanjak dan berkelok-kelok dan makin berada di ketinggian nan dingin.

Masya Allah seger! Anginnya menyapa kulit. Dingin tapi seru.

Mana Curug Tilunya?
Sempet kesasar sebentar di pasar tanjakan deket Ciwidey dan waktu deket-deket lokasi. Karena kita guide-nya pakai Kak Gugel dan ternyata lokasinya tak terlihat. Padahal karena dari awal kami nggak menemukan jalan yang bercabang jadi berhenti dulu.

"Insya Allah gampang lah. Tinggal lurus-lurus doang."

Waktu mendekati zuhur. Kami mampir di musala di kawasan Ciwidey. Kawasan Polsek daerah setempat.

Kenyataannya itu Curug Tilunya belum juga ketemu ><

Kami jalannya sudah dipelanin sambil celingak-celinguk kanan dan kiri. Kata si Kak Gumep (Gugel Mep) tinggal lima meter lagi tapi lokasi tidak menampakkan diri. Akhirnya ada sekitar tiga kali kami bertanya pada penduduk. Sebagian malah tidak tahu.

Lokasi Curug Tilu memang agak menjorok ke dalam. Nggak pas, deket jalan raya. Oh.. pantes. Tapi gerbangnya kelihatan walaupun kecil, kalau kita teliti.

Soalnya di Ciwidey banyak pilihan wisata. Karena ini memang lokasi piknik. Dari Kawah Putih sampai pemandian air panas ada! Banyak dah.

Nah, yang penting itu dia Curug Tilu kita!



Ayo kita masuk!
Dibantu Bocah
Setelah membayar tiket masuk seharga Rp 10.000 per orang dan parkir Rp 5.000 kami pun masuk lokasi.

Eh?

Agak heran awalnya. Ini air terjunnya? Kecil. Hanya beberapa meter.

Tapi kalau dibanding Air Terjun Toro'an di Sampang dan di Air Terjun di Durbuk nggak tahu tinggi mana. Alhamdulillah..

Menurut kami air terjunnya buatan bukan alami. Soalnya air yang mengalir tak sampai jauh. Dan penataan batu-nya yang ummm...

Sudah lupakan! Kami bertemu dingin dan udara yang sejuk sudah Alhamdulillah.


Memandangi Kenangan
Ketua rombongan kami tetiba naik batu-batu besar di antara air terjunnya. Temen-temen yang lain juga ikutan. Aku awalnya mau nimbrung tapi setelah beberapa langkah melewati batu-batu akunya ciut. Oi, ini ternyata air terjunnya lumayan juga ketinggiannya.

Alhasil aku terhenti di tengah jalan. Duh, gimana kalau jatuh. Ngerasa kerdi rasanya. Duile, mana jiwa petualangmu?
Dua anak esde naik dengan lincah melewati bebatuan, mendekati kami. 

"Dek, nggak takut lewat situ?" Aku bertanya tipsnya gimana setelah ditolong mereka. Iya, akhirnya aku dibantuin dua barbie asli Ciwidey.

"Sudah biasa, Mbak. Tiap hari juga lewat situ."

Glek. Aku kalah sama anak esde.

Nyobain Wahana
Setelah naik melewati air terjun ada wahan yang bisa kita coba. Nggak tahu tepatnya apa. Cuma si dua anak perempuan tadi juga naik-naik. Padahal tinggi. Aku juga ikut naik. Meski sempat dikerjain sama mereka berdua. Talinya digoyang-goyang. Duh akunya deg-degan sambil ketawa.

Panen Stoberi
Di sebelah wahana ada danau yang bisa kita pancing lho tapi nggak berminat. Selain karena males nungguin lama juga nggak pas di kantong. Puluhan rebu gitu. Bisa beli cilok berbungkus-bungkus, haha.

Jadi kami lebih milih pergi ke kebun stroberi di sebelahnya lagi.

Dari wahana, kita turun. Melewati danau dan menolak penawaran pengelola Curug Tilu untuk mampir mancing dan makan siang di sana. Kita cari yang seger-seger aja deh. Stroberi!

Petik, jangan?
Yippie! Ketua rombongan kami gembira sangat. Perjalanan ini memang masuk wish-list-nya beliau. Soalnya petualngan di Ciwidey seru-seru.

Masuk kebun ditemani bapak pengelola Curug Tilu. Petik sini. Petik sana. Merasakan manis asamnya bercampur suasana yang bertambah dingin, kabut mulai turun..

Kisah Dua Sahabat
Dua anak perempuan tadi adalah sepasang sahabat yang sering menghabiskan waktu selepas sekolah dengan bermain bersama.

Ini dia yang membuatku haru. Sewaktu mereka membantu tadi. Aku ajak mereka naik beberapa wahana sambil berkenalan dan bercerita. Sayangnya aku lupa nama mereka. Ini gegara nggak langsung ditulis ><

Ada satu si eneng yang wajahnya keliatan sendu.

"Dek, di rumah tinggal sama siapa aja?" tanyaku basa-basi. Ia sebutkan nama-nama anggota keluarganya. Dan aku mendengarnya dengan ganjil di pikiran.

Apa aku salah dengar?

Mungkin. Kayaknya.

Kami bermain tali-tali yang memangjang di langit-langi Ciwidey. Kutanyakan lagi pertanyaan serupa di sela-sela permainan. Jawabannya pun sama.

Ada kakek, ayah dan lainnya tapi tidak ada ibu.

"Ibu pergi dari rumah nggak balik-balik, Teh."

Ya Allah. Anak sekecil itu. Seberani itu. Harus mengalami pengalaman yang menyakitkan. Bagaimana psikisnya?

Namun yang ada di hadapan ia terlihat tegar. Asyik seseruan bertualang bersama rekan sepermainannya di sekitar rumah yang dingin.


Putih suci dalam fitrahnya
Mari Lanjutkan Perjalanan
Sejatinya kita tak boleh menyerah atau kabur atas peliknya masalah. Karena di dalamnya, ia berikan kita hikmah. Tarbiyah kehidupan. Allah hendak berikan kita pelajaran untuk kuat dan bertahan dalam permainan dunia yang sementara. Akankah reaksi-tingkah laku-perbuatan kita jadi amal? Bekal untuk kehidupan yang kekal.

Kami pulang meninggalkan kebun stoberi dan kisah dua orang sahabat. Perjalanan masih panjang. Ada sekian hikmah yang harus kita ambil. 

Melewati danau, dan menuruni bebatuan air terjun kami pulang. Aku menemukan pohon mawar besar di dekat pintu keluar. Mirip pohon sakura jadinya karena batangnya bongsor dan bunga-nya banyak.

Ya Allah kelindan kehidupan sedang menanti. Entah itu baik atau buruk, semoga semuanya membawa kita semakin dekat dengan-Mu.

Masih bukan bunga sakura.

Kamis, 14 Desember 2017

Cinta dan Kelindan Aksara

Allah menciptakan kita dengan cinta.
Sebentar. Biarkan aku menulis segala kekata yang berkelindan di kepala. Engkau yang terjebak di sini, datang kemari dan membaca tulisanku, mungkin ini nampaknya tidak terlalu penting. Jadi tak mengapa jika kau tak membacanya sampai akhir.

Entahlah. Kurasa pintalan kusut sedang menari-nari dan membuat keadaan semrawut. Tentu saja tidak semua. Hanya sebagian kecil. Karena apalah dunia ini kan ya. Cuma sementara.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi?

Baiklah ini seperti kereta api yang melesat pergi dengan kecepatan tinggi. Kuda yang berlari kencang. Gesekan batu purbakala. Kesemuanya memiliki percikan api pabila mereka bertemu satu sama lain. Tapi begitu adanya.

Roda kereta akan selalu berjalan di atas rel. Jika ia melenceng dari jalurnya, jatuhlah ia.

Kuda berpacu di atas tanah. Cepat atau pun dengan pelan.

Batu harus bergesek untuk menciptakan api kehidupan. Melanjutkan detik-detik yang bertalu bersama waktu.

Bagaimanalah mereka bisa menghindar jika takdir menghendaki demikian. Keduanya harus bertemu sesuai hukum alam.

Kehidupan di dalam kereta akan selesai, dalam artian mati atau kecelakaan jika ia berjalan tak seirama. Tak sesuai dengan jalurnya.

Kuda akan diam saja tak ke mana-mana. Tak menjelajahi dunia. Padahal ia luasnya luar bisa. Setiap incijengkal bumi dapat kita telusuri. Di tiap sudutnya Allah beri pelajaran-pelajaran. Hikmah agar kita menjadi orang yang bijaksana.

Pun batu. Api yang tercipta darinya membantu kita memasak. Melanjutkan kehidupan.

Sebagaimanapun kita menghindar, percikan api kan selalu ada. Maksudku ia memang tercipta sesuai hukum alam. Itu alami dan natural.

Begitulah. Kita sebagai insan, kalau mau berfilosofis laiknya Plato yang mengatakan bahwa ia seorang makhluk yang tak bisa hidup sendirian. Harus ada interaksi-interaksi antar sesama agar kehidupan terus berlanjut. 

Kita memerlukan pelajaran dari orang lain. Kita memerluan bantuan orang lain. Kita memerluka kasih sayang orang lain.

Hukumnya memang begitu. Tak terelakkan. Tak bisa menghindar ke manapun kita pergi.

Tapi ingatlah, kala percikan api menghampiri. Ada Allah yang selalu siap menampung segala resah hati.

Wahai hati yang sedang retak, menyatulah. Bersatu dengan ikhlas. Tanpa prasangka. Biar Allah yang membantu segalanya.

Cinta semoga ia tumbuh di sana. Jauh ke dalam bumi. Jauh ke dalam hati. Dengan beningnya prasangka yang menjadikan segalanya menjadi baik. Benih-benih tumbuh. Menumbuhkan agar yang kokoh. Daun-daun hijau. Serta bebungaan yang indah, sedap dipandang.

***

Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang di antara kamu dengan orang-orang yang pernah kamu musuhi di antara mereka. Allah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
[QS. Al-Mumtahana: 7]


Jumat, 01 Desember 2017

Resep Sambal Lalapan Sunda ala Mamah Teh Insan

Resep Sambal Lalapan Sunda ala Mamah Teh Insan
Selama di Bandung kita dua kali main ke rumah Teh Insan. Selama itu pula suguhan ala Sunda selalu terasa. Sambal lalap yang paling menarik perhatian. Bikin nggak tega sih mau nambah terus, haha.

Dan itu sambel ter-enak menurutku. Bikinnya gimana sih?

Dari dulu rasa penasaranku belum juga terpuaskan. Jadi ketika mendapatkan sambel top-markotop itu langsung kupasang wajah antusias dengan mata bundar berbinar-binar tak mau melewatkan step by step-nya.

"Ya gitu weh bikinnya bawang, tomat, cabai," jelas si Mamah merendah. Ah, Ibu mah kitu da. Sebenarnya di rumah yang panggil Mamah cuma Hanin, adik bungsu Teh Insan. Kalau saudara-saudara yang lain panggilnya, 'Ibu'. Maklumlah 'Kids Zaman Now.' Terus aku-nya labil. Kadang panggil Mamah, kadang Ibu, hoho.

"Tapi pas abdi bikin, kadang suka kebanyakan bawang, Bu. Atau terlalu kecut kebanyakan tomat." Aku kekeuh minta resep. "Kumaha takarannya biar pas. Biar enak kayak bikinan Ibu..," gitulah kira-kira percakapan yang difasilitasi sama Teh Insan.

Akhirnya aku dibisikin deh resep rahasianya. Here we go!

Sssst, ini aku minta resepnya untuk porsi delapan orang. *ups ketahuan deh keluarga besar :D

***


Resep Sambal Lalapan Sunda ala Mamah Teh Insan



Bahan:
Cabai 20 biji.
Bawang merah 3 siung.
Bawang putih 1 siung.
Tomat 2 buah.
Gula merah 1 ons.
Petis Madura♡ 1 sdm menggelembung.
Minyak 3 sdm.
Terasi dikiiiit aja.
Garam secukupnya.


Cara bikinnya:
1. Cuci bersih tomat, bawang dan cabainya. Potong-potong minimal jadi dua bagian agar tidak meletup-meletup saat digoreng, seperti rasa cinta yang menari-nari, kata JKT 48.


2. Panaskan minyak. Setelah dirasa agak panas, goreng rombongan di step pertama. Oia, terasinya diikutkan juga. Jangan sampai ketinggalan. Nanti dia ngambek.

3. Setelah udara sudah mulai bikin bersin-bersin jangan dekati kompor. Nanti sambelnya terkontaminasi wkwkwkwk. That's why apinya jangan gede-gede. Soalnya dia suka bikin serang☆. Kecilin apinya. Yang sedang-sedang sajaaa, yang sedang-sedang saja.

4. Ulek gula merah dan garam sampai halus. Tuang rombongan dari wajan. Biarkan mereka nimbrung dan menyatu dengan alam. Eh, maksudnya biar ngariung di cobek. Hah?

5. Tambahkan petis Madura biar makin top-markotop. Karena masih musim kemarau (baca: panas hasil ulekan sebelumnya), jadi gampang ngulek petisnya.

6. Tes rasa. Kalau sudah cukup dan sesuai selera garam dan gulanya, berarti sudah saatnya dihidangkan. Taraaa, this is sambal lalapan ala Mamah Teh Insan sudah siap disantap!

***

Hasilnya mantap bener. Meski hanya dimakan berdua dengan nasi yang mengepul hangat. Dijamin berhasil bikin kita berhahuha kepedesan dan tambah nasi, Insya Allah! Alhamdulillah bi ni'mati tatimmus shaalihaat.

Alhamdulillah padahal uji coba pertama kali nih.

Rencang (teman/lauk) nasinya paling afdhal sama timun, kemangi dan tahutempe. Iya, kalau memang mau diniatkan 'nyunda,' rombongan sayur ini sunnah muakkad sampai wajib hukumnya; terong bulat, leunca, petai, timun dan kemangi.

Kalau ada ayam goreng dan dadar telur tentu saja akan disambut dengan hati senang walaupun tak punya uang, oi. Tapi mah seadanya weh. Sabar ya nunggu gajian. Karena meski sekarang tanggal satu, masih merah alias libur.
Sila dinikmati. Jangan lupa baca basmalah sebelum makan!

***

Kemaren kami sempet curiga pas kunjungan kedua ke rumah Teh Insan. Sambelnya makin enak. Kulihat Mamah senyum-senyum.

"Tahu nggak kenapa sambelnya enak? Ibu kasih petis Madura." Wah pantesss makin maknyus!

Alhamdulillah oleh-olehnya kepake, soalnya kami sudah dag-dig-dug takut nggak suka awalnya. Eh, Ibu ternyata jago ngolahnya. Two thumbs up for you, Mom!

Kalau nggak ada petis Madura-nya juga masih bisa dibikin sambel lalapan pakai bahan dan step di atas. Tetep enak! Sekian resep sambal lalapan Sunda ala Mamah Teh Insan. Selamat mencoba!

Note:
☆serang, bahasa Madura untuk udara yang bikin segak, hidung gatal, batuk, atau bersin-bersin biasanya diakibatkan oleh aroma masakan. Kalo Sunda-nya nyereng kata Teh Insan.

♡Kita pakainya petis Madura, tepatnya daerah Pamekasan, yang ada manis-manisnya gitu. Bukan petis Tanjung yang agak pahit atau petis Sumenep yang agak asin.


Jumat, 06 Oktober 2017

Seseruan di Rainbow Garden Bandung

Jika ingin mengetahui wajah Kota Kembang Bandung maka kunjungilah Rainbow Garden. Wahana wisata yang berada satu area dengan Floating Market. As I mentioned before, there are many sites you can enjoy here. Dan aku memilih masuk taman bunga ini.

Untuk masuk area Raibow Garden kita ditarik karcis Rp 10. 000 per orang. Huumb, meskipun masih satu lokasi dengan Floating Market, masuknya kudu bayar lagi. Dilarang langsung nyelonong. Karena nggak sopan. Soalnya ada yang jaga di depannya.

"Terus gue selama ini dianggap apa?" *mode FTV lebay :D

Kalau nanti beneran dibilang gitu sama penjaga karcisnya, aku nggak mau tanggungjawab ya. Soalnya kan dah dikasih tau; kudu bayar ceban :D

Kenapa memilih Rainbow Garden dibanding wahana lainnya di Floating Market? Padahal ada juga area Kota Mini, rumah kelinci, Museum Kereta api dll.


Kenapa yaa. Karena aku suka bunga. Dan diajakin Mbak Yul juga. Dari jauh warna-warnanya sudah kelihatan. Melambai-lambai minta di datengi. 

"Sini dong, sini," panggil mereka pake TOA.

Hihi.

"Lho di Kebun Begonia kan sudah bunga-bunga?"

Iya! Tapi ini The Real Paris van Java. Perwujudan Kota Kembang sesungguhnya. Sini deh aku ceritain di sana ada apa aja dan keseruannya gimana. Cekidot!

Here We are in Rainbow Garden
Setelah mendapat topi kurcaci sewarna pelangi, kami akhirnya passed the gate that guided by bodyguard with the black coat.

Alhamdulillah, yeay!

Baru melangkah, melewati gerbang saja sudah terpana. Deretan bebungaan seketika membius kami. Selanjutnya pasti deh ngapain. Ambil kamera, cekrek-cekrek mengabadikan momen. Mumpung batre masih ada kan. Dan mumpung masih di Bandung.

Krisan berbagai macam warna dan anggrek yang menggantung menjadi bunga paling dominan. Pun mawar-mawarnya yang beragam. Lainnya, belum sempat ta'aruf tanya nama :D

Rumah ala Eropa
Lurus dari pagar, belok kanan, naik sebentar, ada rumah ala Eropa. Di berandanya anggrek bulan besar-besar berwarna putih. Tanaman menjuntai memenuhi dinding rumah. Ah, aku mau rumah kayak gini ><


Puas menjelajahi rumah berbunga itu kami lurus ke kanan dan belok kiri di tangga panjang. Di situ potnya lucu-lucu. Konsepnya ciamik sangat. Teko-teko saling mengalirkan air. Drainasenya keren!

Rumah Kaca Penuh Bunga
Melewati tangga kami menjumpai rumah dengan beranda penuh kaca. Di sini banyak mawarnya. Dari kuning-putih-merah ada! Ketemu anggrek jenis lainnya juga. Bikin gemes pengen dipetik.


Kata Bang Tere Liye, biarkan mawar mekar di sana. Biarkan semua yang melihat memuji keindahannya. Dan terus tumbuh dengan decak kagum lalu lalang orang. Jika kau petik. Maka habislah kebahagian si mawar. Soalnya kamu nikmati sendiri di kamar.

Aku setuju sama Oki Setiana Dewi. Kali mau ngasih bunga sekalian sama potnya. Biar dia nggak mubadzir dan terus tumbuh. Biar kita bisa menikmatinya lebih lama.

Asyik kan meski sudah gugur bunganya, ia akan menjadi biji yang siap tumbuh. Batangnya yang lain pun sedia membungakan mawar baru.

Ngomong-ngomong kita nggak boleh petik bunga-bunga di Rainbow Garden Floating Market ini. Petik artinya beli. Jadi mending beli di Toko Bunga ajah, lebih legal. Jangan lupa sekalian sama potnya yaa. Etapi ada beberapa spot khusus untuk tanaman  yang dijual. Deket situ ada mamang-mamang penjaga kebunnya. Boleh banget kalo mau tanya-tanya.

However, di rumah yang satu ini, view-nya bagus. Kita bisa melihat Floating Market dari ketinggian. Everything goes green. Ternyata cukup jauh Rainbow Garden dari sana. Tapi kami nggak merasa capek. Mungkin karena pemandangan di sekitarnya elok-elok.

Masya Allah, indah sekali ciptaanmu, Tuhan.

Rumah Hidroponik
Kelar dari situ kami ke Rumah Hidroponik. Ruang itu menjelaskan bagaimana caranya melakukan hidroponik sendiri meski tidak ada seorang guide di dalamnya.

Selada Hidroponik

Terlihat biji-biji ditaruh di atas spon basah. Selada hijau yang segar-segar sedang tumbuh. Juga tomat-tomat yang mulai memerah ranum. Semuanya ditanam dengan media air. Saat kami masuk ke sana, serasa disambut dengan orkestra, gemericik airnya yang menenangkan jiwa.

Ah, meuni adeumm.

Rumah Pohon
Meski gerimis datang lagi, dan tentu saja itu tak menyurutkan langkah kami. Waktu aku keluar dari ruang hidroponik itu, malah Mbak Yul dan Dek Ril yang ikutan ke Rainbow Garden sudah ada di rumah pohon. Teteupp ya :D , walaupun langit semakin hitam.

Aku dan rekan lainnya memilih duduk rehat di bawah rumah itu. Ada semacam kursi bulat yang digantung berjejer di situ. Kursinya dibikin ala ayunan gitu. Apa sih namanya.


Di dekat kami ada deretan stoberi yang baru mulai merangkak. Buahnya masih putih kehijauan. Nah dari situ keliatan tuh rumah-rumah warna flourescent di Kota Mini.

Nggak lama rehatnya, karena lanjut menelusuri bunga-bunga. Bayangin aja sawah tapi tiap lajurnya penuh kembang. Masya Allah, indahnyaa..

Tapi gerimis yang masih turun dan sore yang mau pamit memaksa kami untuk tidak berlama-lama. Deuh, yang mau pulang, tapi nggak pulang-pulang, haha. Abis bunganya bikin betah.

Di samping Raibow Garden ini ada wahana baru juga. Kami curious pengen tahu. Apalagi jalan menuju ke sana nggak kalah indahnya. Nggak ada tanda-tanda kudu bayar lagi. Tapi melihat dari penataannya, ini spot baru dan di luar Rainbow Garden.

Ternyata itu kebun-kebun yang baru dibangun. Sepertinya kebun stroberi gitu.

Karena lahannya kosong. Dan kelihatan tanamannya masih gersang dan sebagian juga baru ditanami, akhirnya kami balik. Memutuskan pulang lewat jalur Rainbow Garden [lagi].

Tapi di jalan ketemu deretan bunga berwarna kuning macam seruni. Ketemu gerombolan lavender yang bikin hati pengen berhenti. Ah, spotnya masih banyak di Rainbow Gardennya.
Banyak. Buaaaanyak. Hihi.

Pulang, Nak. Pulang..
Kudu dari pagi mainnya. Biar puas seharian. Dan siap-siap gempor :D

Akhirnya pulang juga. Mengingat Maghrib yang siap-siap mengetuk pintu waktu.

Tiket parkir kena lima rebu. Dihitungnya perjam. Sejam pertama tiga rebu, katanya. Jam berikutnya beda lagi. Oia, waktu masuk Floating Market sebelumnya kan didata. *Astaghfirullah, lupa ya, Mpok.. :D


Kesannya sama Rainbow Garden ini; must visited place kalo kita pergi ke Bandung. Aku juga bakal mampir ke sini lagi kalo ada kesempatan ke Kota Kembang, Insya Allah! Aamiiin. Soalnya areanya lebih luas, spotnya lebih banyak, dan penataan kebunnya juga lebih kece dibanding Kebun Begonia. Inspirasi banget-lah buat para mahasiswa arsitektur lanskap.

Bener-bener Paris van Java! Perwujudan kota kembang yang penuh romansa..

Koleksi bunganya bikin betah.
♡.♡


Sudah, sudah. Pulang, pulang.
*diseret Emak l.o.l



***
Gelang, sepatu gelang..

Gelang, si rama-rama...



Keluar dari situ kami balik pulang. Baru jam setengah lima ternyata. Pulangnya lewat Cihampelas Walk, lalu lanjut Jl. Asia Afrika dengan lampu jalannya yang fenomenal itu. Mampir sholat di Masjid Agung Bandung.

Mari pulang, marilah pulang..

Marilah pulang, bersama-sama...



Dan karena gerimis datang lagi membuat perut makin keroncongan, jadilah dinner kami di abang tukang bakso Mang Ihsan. Rekomen Ibu Teh Lia juga nih tempatnya.

Batagornya enak. Gede-gede. Daging baksonya kerasa dan banyak. Bikin kenyang. Teh hangatnya gratis. Membuat kami gembira melihat kantong tipis :D

Oia, selama sepekan kami di Bandung, pengeluaran nggak sampe 200 rebu. Mungkin traveling hemat ala kami bisa dijabarkan di Kebun Kekataku juga, kali yaa. Anyway ada yang mau tips-nya, nggak? Kalo mau, nanti dibikinin postingan beneran. Insya Allah. Diingatkan yaa.

Selanjutnya halan-halan kami keee....... Ciwidey! Wait us on the next blogpost, Insya Allah!




Kamis, 28 September 2017

Manajemen Konflik Saat Traveling

Manajemen Konflik Saat Traveling

Konflik saat traveling memang tidak bisa dipungkiri. Bukan cuma pemandangan yang Masya Allah atau hasil foto yang kece-kece.

Kita pastinya pengennya seneng-seneng. Rehat sejenak di sela-sela aktivitas yang monoton. Di antara pikiran mumet mikirin segala hal.

Halan-halan a.k.a traveling adalah hal dinanti banget. Apalagi waktunya pas. Uangnya cukup. Klop dah.

Cuma ada hal yang tidak bisa dihindari. Konflik. Entah itu di antara para personel pejalan atau sama tempat yang baru kita kunjungi.

KALEUM
Keep calm! Dibawa kalem dulu. Tenang.

Take a deep breath then release!

Soalnya kalo pada riweuh nanti halan-halannya malah nggak mood.

Google map kadang memang tak sama dengan kenyataan lapangan. Makanan boleh jadi tak sesuai selera. Atau kalau jalan-jalannya barengan, pendapatnya bisa saja tak sama.

Duduk bareng, tenangin dulu, cari solusi.

"Jika engkau didera amarah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Dengan itu diharapkan emosimu kembali tenang. Jika belum reda maka berbaringlah."
[HR. Abu Daud]


SOLUSI
There is no problem that can't fix. Daripada ikutan bikin kepala pusing tujuh keliling, gugling dulu deh di ponsel pintar kamu. Arah yang bener ke mana. 

Bisa juga tanya orang sekitar. Orang lokal pasti lebih tau. Apalagi kalau informasi di internet kurang akurat alias belum update. Nah itu tugasmu memperbaruinya selepas perjalanan. Dengan membagi pengalamanmu di dunia virtual.


MAKE IT FUN
Dibawa seru aja. Kalau yang lain lagi murem kita yang ceria-in. Ajakin selfie-groufie misalnya, cari spot yang kece untuk mengobati  gulana hati atau ajak main ala Mission-X.


Intinya seseruan. Something make it fun.

ESENSI JALAN-JALAN
Om Lili suka ingetin. Perbaiki niat. Niat kita halan-halan ngapain. Kata beliau pastikan tujuannya untuk mendekatkan diri pada Allah.


"Masya Allah, indahnya!"
"Masya Allah, thank's God for this marvellous view."


Biar nanti di perjalanan mendapat rida. Dan dibantuin sama Allah kalau ada apa-apa.


TAKE THE CHALLENGE!
Tapi kalau menurutku, konflik itu bikin adventure kita makin challenging! Ibarat novel, semakin rumit problematikanya makin seru.


Yup. Semuanya dibuat seru aja. Macam postingan selanjutnya. Seseruan di Rainbow Garden! Yuk jalan lagiii..

Rabu, 27 September 2017

Konflik di Floating Market Lembang Bandung


Yuhuu.. dari Kebun Begonia, kami langsung ke Floating Market yang disambut kelabunya awan dan gerimis tipis.

Setelah ditarik karcis masuk Rp 20.000 dan check in kedatangan kami pun masuk. Di situ ada semacam box hijau yang menghitung lama-sebentarnya pengunjung di dalam Floating Market. Kemudian parkir deh.

Hujan-hujan begini memang enaknya yang anget-anget. Syukur Alhamdulillah, karcis masuk tadi bisa ditukar dengan berbagai minuman. Aku memilih lemon tea untuk menghangatkan badan.

Tukar tiketmu dengan minuman, di sini!
Sesuai dengan namanya, Floating Market yang berarti pasar apung. Jadi kalau kita mau belanja untuk keperluan perut, belinya di perahu-perahu di pinggir danau situ.

Harganya beragam. Tapi kebanyakan mahal-mahal. Dari ujung ke ujung stan makanannya nggak ada yang menarik. Soalnya nggak ada yang pas di kantong. Haha, nasib para mahasiswa kere.

Doakan saja kelak kami menjadi blogger kece, pengusaha keren serta graphic designer kece dan professional photographer. Aamiin.

Walhasil kami cuma duduk-duduk menyeruput minuman hangat masing-masing.

Oia, walaupun mau berinisiatif bawa bekal ala piknik gitu, nggak diperbolehkan di sini. Kalau ketahuan bakal didenda sama petugas. Jadi hikmahnya, kalau mau ke sini harus dalam keadaan perut kenyang. Atau bisa basa makanan, tapi dimakan di tempat lain ^^

Karena nggak mau rugi kami jalan-jalan menyusuri lokasi wisata Floating Market Lembang Bandung ini.

Kalau mau beli bisa naik sepeda air ini
"Ke Floating geura. Tempatnya rekomen banget buat kalian. Nggak bakal nyesel deh kalian ke sana," pesan mamah Teh Lia sebelum berangkat yang kemudian menjadi salah satu alasan kami mampir di mari.

Begitu mengelilingi area danau kami mulai diderpa kebosanan. Laper sejujurnya. Tapi aduhai harganya nggak bisa nolong. Belum lagi sempat ada konflik di antara kami.

Jeng-jeng-jeng!

Pastinya konflik yang terjadi bukanlah alasan mengapa langit menangis. Kyaa..
Faktanya langit mendung.

Nyatanya Floating Market lagi gerimis.
Kenyataannya hidup tak seindah drama Korea.

*bukan iklan mode on :p



But that is. Ada hati yang bergemuruh dalam jiwanya. Uhuk.

Makanya sabda Rasulullah, kalau ingin tau tabiat asli seseorang, ajak dia traveling kayak gini. Terus lihat bagaimana ia bersikap. Atau bisa juga dengan menginap di rumahnya tiga hari.


Macam sahabat Rasulullah. Sahabat yang satu curios banget sama seseorang yang disebut-sebut masuk surga oleh Nabi. Seseorang itu bahkan dimention tiga kali dalam hadist Rasul. Waktu mereka sedang halaqah duduk melingkar, lalu besoknya dan besoknya lagi.

Itu tuh yang bikin sang sahabat tadi penasaran sampai menginap tiga hari di rumahnya.

"Apa yaa yang membuatnya istimewa sampai-sampai dia termasuk dalam list penghuni surga?"

Selama tiga malam menginap, sang sahabat tidak menemukan sebuah tanda pun. Malah seseorang tersebut tidak pernah terlihat sholat tahajjud. Wah makin penasaran dong sahabat kita itu. Karena waktu menginapnya hampir habis, sang sahabat berkata dan bertanya jujur.

"Sebenarnya, aku menumpang beberapa hari di rumahmu bukan karena sedang bertengkar dengan ayahku. Melainkan karena Rasulullah menyebut-nyebut namamu di depan para sahabat lainnya sebagai ahli surga. Aku dari kemaren penasaran. Ibadah istimewa yang membawamu ke sana?"

"Tidak ada amalan istimewa, sahabatku," jawabnya dengan senyum sumringah.

Respon yang membuat sang sahabat gemes. Ih masak nggak ada? Rasulullah sampai nyebut berkali-kali gitu. Melihat reaksi tamunya, tuan rumah akhirnya mengeluarkan jurus andalannya.

"Benar, Insya Allah. Namun barangkali, itu terjadi karena saya tidak pernah berburuk sangka terhadap orang lain."

Jawaban ini akhirnya membikin sang sahabat plong. Bener aja. Selama tiga hari menumpang, tuan rumah nggak pernah nanyain tamunya, kenapa datang menginap. Nggak ada sama sekali. Cuma dilayanin weh tamunya; tidur, disiapin makan, mandi dll..

Sama juga kalau ada konflik dalam perjalanan, sebisa mungkin kita menghadapi dengan hati adeumm. Kata bapak Teh Lia mah, "Kaleum weh."

Positive thinking. Ini yang paling penting.

Biasalah, nggak lengkap rasanya kalau jalan-jalan tanpa konflik. Pasti deh ada. Rasanya perlu dibikin tulisan khusus untuk ini yaa. Tergantung kitanya aja manage konfliknya gimana. Ditambah kalau jalan sama cewek-cewek. Mungkin saja dia sedang PMS, haha. Jadi nggak perlu ditanggapi sampai alis bertaut.

"Tak osa makabin ales. Pangolona ghita' d√Ęteng," artinya dicari di gugel translet ya. Atau tanya sama anak Madura ^^v peace!

Dibawa santai aja sih. Badai pasti berlalu. Kita nikmati suasana dan lanjut halan-halan!

Komik ala-ala
Muter-muter area danau, tau-tau kami sudah sampai daerah persawahan. Jadi itu teh ceritanya dibikin mirip perkampungan. Ada gemericik sungai kecil, kandang ternak sampai saung untuk rehat.

Siip lah. Cocok banget buat hati yang gundah. Uhuyy.

"Mbak, kita ke atas yuuk! Bagus deh pemandangannya di sana," tiba-tiba Yasmin muncul saat aku, Mbak Dil dan Dek Ril lagi santai di sebuah bangku taman yang sepi banget. Berfoto ala-ala inces.

Aku ikut dong!

Mbak Yul sudah ke atas duluan. Teh Lia sama misua menyusul kemudian.

Jadi di atas sana adalah bukit penuh warna-warni pelangi yang menarik hati.

Jom kita naik! Di atas sana banyak pilihan wisata lainnya loh. Keseruan kami nantikan di postingan berikutnya yaa. Yuhuu, tertanya Floating Market Lembang nggak cuma tentang makanan tradisional ala pasar apung. Masih banyak. Baaanyaaak!

Pilihan Wisata di Floating Market Lembang
Yes. Nggak jadi baper. Yuk ikut!